Indonesia Prakarsai Inisiatif Akademi Anti-Korupsi Internasional
Friday, 03 September 2010 23:33
Tim Admin Indonesian Voices
Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinannya dalam upaya pemberantasan korupsi global dengan menjadi bagian dari 35 negara pertama (founding members) yang menandatangani perjanjian pendirian Akademi Anti-Korupsi Internasional (International Anti-Corruption Academy/IACA) sebagai suatu organisasi internasional.
Prakarsa penting itu ditandai dalam konferensi inagurasi akademi tersebut di Wina, Austria, 2 September 2010 yang mengambil tema From Vision to Reality: A New and Holistic Approach to Fighting Corruption.
Penandatanganan dilakukan oleh Komisioner Haryono, Plh Ketua KPK mewakili Pemerintah Indonesia dalam sesi Treaty Signing Ceremony. Delegasi Indonesia dalam peresmian IACA yang dipimpin oleh Dubes/Watap RI Wina, I Gusti Agung Wesaka Puja, beranggotakan para pejabat dari KPK, Polri dan Kemlu.
Dalam konferensi yang juga dihadiri oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon, Menteri Luar Negeri dan sejumlah pejabat tinggi Pemerintah Austria, serta sedikitnya 35 Menteri dan pejabat tinggi negara lainnya dari seluruh kawasan, pernyataan dukungan Indonesia terhadap pentingnya pendirian IACA dibacakan oleh Komisioner Haryono sebagai pihak yang menangani secara khusus penanganan korupsi di Indonesia bersama lembaga penegak hukum lainnya.
Read more...
|
Komnas HAM Bingung Penambahan Pasukan di Buol
Friday, 03 September 2010 23:26
Tim Admin Indonesian Voices
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Daerah Sulawesi Tengah mengaku bingung dengan keputusan Polri yang kembali memobilisasi pasukan keamanan ke Buol padahal situasi keamanan di daerah bagian utara provinsi itu perlahan sudah kondusif. "Heran! Kenapa ada mobilisasi pasukan lagi ke sini hanya karena alasan keamanan," kata Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Sulteng, Dedi Askari di Buol, Jumat malam.
Dedi mengatakan, skenario yang mau dibangun di Buol saat ini mestinya lebih pada pembangunan komunikasi kepada keluarga korban, lintas tokoh masyarakat, agama, pemuda, Polri, TNI dan semua elemen yang terkait dalam membangun situasi kondusif. Menurut Dedi mobilisasi pasukan keamanan bisa saja ditanggapi lain masyarakat bahkan rawan terjadi gesekan.
Hingga Jumat malam, Komnas HAM masih mengunjungi kediaman korban tewas penembakan, salah satunya adalah Saktipan Kapuung yang pada 1 Oktober nanti berusia 38 tahun.
Read more...
ASEAN dan AS Bertemu 24 September
Friday, 03 September 2010 22:16
Tim Admin Indonesian Voices
Krisis ekonomi AS menyebabkan Presiden AS Barack Obama membuka torobosan-terobosan baru. AS tidak harus dengan masyarakat Eropa saja, atau Timur Tengah saja tetapi sudah mulai melihat kawasan Asia Tenggara, khususnya negara-negara anggota ASEAN sebagai kolega yang sangat potensial dalam isu pengembangan ekonomi ke depan.
Salah satu upaya Obama untuk mendekatkan kebijakan AS ke ASEAN adalah dengan menyelenggarakan pertemuan puncak Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan para pemimpin Asia Tenggara telah dijadwalkan pada 24 September di New York, kata seorang pejabat senior AS, Jumat.
Pertemuan puncak itu, yang telah diumumkan sebelumnya, akan merupakan upaya terakhir Obama untuk menyegarkan kembali kebijakan AS terhadap kawasan Asia Tenggara yang dinamis, yang ia katakan telah diabaikan oleh tim bekas presiden George W. Bush.
Pertemuan itu akan terjadi pada waktu Obama berada di New York untuk sidang tahunan Majelis Umum PBB. Pertemuan New York itu akan menyusuli pertemuan puncak inagural yang Obama adakan tahun lalu di Singapura dengan para timpalannya dari 10 anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Read more...
|
Komnas HAM : Terjadi Pelanggaran HAM Serius pada Kasus Buol Berdarah
Friday, 03 September 2010 06:47
Tim Admin Indonesian Voices
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sementara ini telah mengidentifikasi beberapa bentuk indikasi pelanggran hak asasi di Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng), dan menilai telah terjadi pelanggaran HAM serius. "Terjadi pelanggaran HAM serius pada kasus Buol berdarah ini," kata Komisaris Daerah HAM Sulteng, Dedy Askari, Jumat.
Bentrok kepolisian dan warga yang terjadi tiga hari sebelumnya itu telah menewaskan tujuh warga sipil dan melukai puluhan orang lainnya.
Menurut dia, meskipun belum ada kesimpulan yang final terkait kasus Buol itu, pihaknya sudah bisa memastikan insiden yang terjadi di Buol adalah bagian dari pelanggaran hak asasi. Dedy mengatakan, pihaknya sudah mendatangai sejumlah pihak untuk meminta klarifikasi insiden Buol berdarah itu.
Diteragkannya, pihak-pihak yang sduah ditemui pihaknya adalah Kepala Kepolisian Daerah Sulteng, manajeman Rumah Sakit Umum (RSU) Daerah Buol dan keluarga korban tewas.
Last Updated on Friday, 03 September 2010 06:56
Read more...
Obama Salah Ucap yang Berakibat Perubahan Kebijakan
Thursday, 02 September 2010 22:53
Tim Admin Indonesian Voices
Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang biasanya fasih berpidato dan memiliki kemampuan verbal yangn tinggi untuk mengangkat kalimat demi kalimat dengan sangat baik, tetapi ternyata bisa salah ucap juga. Dalam pidatonya pada Selasa (31/08/2010) lalu ia membicarakan waktu penarikan pasukan dari Afghanistan yang salah ucap.
Dalam pidatonya 17 menit itu berbicara mengenai pergeseran di Irak akan membebaskan sumber daya yang harus ditanggung pemerintah AS. Rencana berikutnya adalah penarikan pasukan dari Afghanistan. Naskah pidato Obama menyatakan pasukan Amerika Serikat akan mulai ditarik pada Juli 2011, tanggal yang sudah ditetapkan, tetapi ternyata Obama mengatakan, "Dan, Agustus mendatang, kami akan memulai peralihan ke tanggung jawab Afghanistan."
Pejabat Gedung Putih menyatakan perubahan tanggal itu bukan perubahan kebijakan. Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengatakan kepada jaringan berita CNN bahwa Obama hanya "terpeleset" yang menyebabkan penarikan pasukan AS di Afghanistan bergeser lebih lambat satu bulan di tahun 2011.
Pidato 17 menit ini buru-buru disampaikan untuk meredam keresahan masyarakat internasional dan khusunya di AS atas ketidakjelasan nasib tentaranya di Afganistan. Pernyataan Obama tentang penarikan pasukan di Irak dan Afghanistan ini terkait dengan semakin rendahnya dukungan internasional berupa permintaan negara-negara sekutu AS untuk pulang lebih cepat, seperti Belanda, Australia, Inggris, Prancis, Kanada, Jepang, Yunani, Spanyol dan masih banyak lagi yang merasa bahwa perang di Afghansitan semakin tidak rasional dan pemborosan. Masing-masing negara mengalami tekanan oleh rakyatnya masing-masing bahkan berakibat kejatuhan pemerintahan seperti yang terjadi di Belanda.
Read more...
|
|
|
|
|
|
Page 3 of 104 |