Akhir-Akhir ini banyak sekali demo yang pada umumnya masih bertema KPK vs Polri. Dalam berbagai demo tersebut terlihat kontropersi mengenai KPK atau Polri dan Kejaksaan yang benar. Padahal tidak semua bisa hitam semua atau putih semua, tetapi harus secara tegas kita katakan bahwa semua institusi Negara harus dijunjung tinggi dan dihormati. Tidak boleh ada satu pun lembaga di kriminalisasi.
Penyampaian aspirasi haruslah benar-benar dari rakyat banyak, dari suara-suara yang menunjukkan keprihatinan atas kepastian dan jaminan hokum untuk rakyat. Tanpa ada intervensi markus, atau oknum-oknum tertentu yang berusaha mengambil keuntungan dari berjalannya hokum itu sendiri.
Jika kita perhatikan dari demo-demo yang berkembang kita bisa telusuri dari mana para pendemo ini dan akan mengaspirasikan apa? Bisa kita lihat dari ciri-ciri tertentu pada aksi-aksi demo mereka.
Sudah jaminan mutu kalau dari pihak mahasiswa atau dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bisa kita pastikan akan benar-benar membawa aspirasi masyarakat itu, dengan berbagai aksi teatrikal, isi spanduk pada umumnya golongan ini sangat prihatin dengan kriminalisasi yang dilakukan terhadap KPK dari berbagai pihak yang tidak senang dengan upaya pembersihan tikus-tikus berdasi.
Di pihak yang lain dengan ciri-ciri, rata-rata sangat berusia lanjut (bukan mahasiswa lagi), terlihat dari para pembicara dalam demo hanya aktif dilakukan oleh beberapa gelintir orang saja. Tidak ada aksi teatrikal dan tidak ada aspirasi untuk pemberantasan korupsi. Sebagian besar pada peserta demo lainnya pada umumnya pasif.
Jika kita coba-coba bertanya kepada salah satu dari orang yang ikut dalam demo tersebut. Aspirasi apa yang sedang dicoba untuk dimunculkan? Sering kali kita tidak mendapatkan jawaban, atau hanya sekedar jawaban, “Saya hanya ikut-ikutan saja.” Kalau kita Tanya lagi kok bisa ikut-ikutan saja? Pada umunya mereka sering jujur menjawab, “Ya lumayan mas untuk uang rokok.” Atau jawaban yang kira-kira seperti itu yang menunjukkan bahwa mereka ikut karena faktor kebutuhan materi bukan karena mengusung idealism tertentu.
Menelusuri oknum-oknum ternentu yang sengaja mengumpulkan orang-orang "yang tidak ada kerjaan" atau pengangguran ini untuk direkrut sebagai pendemo bayaran. Sekali demo mereka bisa mendapatkan Rp. 20.000,- sampai ada juga yang mendapat lebih dari itu. Plus nasi bungkus dan sebungkus rokok yang membuat mereka tenang hari ini.
Mereka ini orang-orang yang tidak sadar bahwa upaya untuk membasmi korupsi di tanah air tercinta ini adalah sebagai upaya untuk memberikan mereka lapangan pekerjaan, kesejahteraan, pelayanan pemerintah yang lebih baik, persamaan semua masyarakat dalam hukum dan sebagainya. Sayangnya mereka tidak sadar ini, karena memang pada umumnya mereka berpendidikan sangat minim.
Tinggal pintar-pintar kita menilai mana yang benar-benar berdemo untuk membawa aspirasi rakyat dan mana yang dibayar oknum tertentu. Sudah aspirasi rakyat terpasung oleh "keangkuhan legislator" ternyata juga aspirasi rakyat dibungkam oleh mafia demo. Memberantas mafia peradilan saja sudah sangat susah.









