Oleh Sri Megawati
Tampaknya ini kabar buruk bagi para pemegang dolar. Rencananya Pemerintah Obama akan mencetak uang baru untuk pembiayaan yang program-programnya yang akhir-akhir ini semakin sulit. Walaupun krisis ekonomi Amerika Serikat sudah mulai pulih, walaupun aktivitas ekonomi masih jauh dari 5 sampai satu decade yang lalu, tetapi setidak-tidaknya sudah mulai menunjukkan indicator positif. Tetapi derasnya pendanaan perang Irak, perang Afghanistan, aktifitas mesin perang AS diberbagai negara, kebijakan bill out untuk perbankan yang dilanda kehancuran, insentif industry AS pada sector otomotif dan elektronik semuanya ini sangat menyita dana yang besar.
Salah satu jalan keluarnya ternyata AS harus mencetak 300 miliar dolar baru untuk mendukung berbagai programnya walaupun resikonya nilai dolar akan tergembosi, tetapi tanpaknya kebijakan ini yang akan diambil Pemerintah Obama. Rencana ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi AS semakin memudar.
Kita ingat pada masa lalu di Indonesia pada era Soekarno. Pemerintah kita mencetak uang besar-besaran hanya untuk berbagai proyek mercusuar, contohnya seperti pembangunan Monas. Uang kita benar-benar semakin tidak bernilai.
Kebijakan Amerika Serikat mencetak 300 miliar dolar baru mencemaskan banyak kalangan, misalnya di Cina yang kini ingin mengganti devisa dolar dengan valuta lain, apalagi Negara-negara Eropa yang memang sudah menggunakan euro, maka semakin menjauh dengan dolar. Bukan hanya itu Negara-negara Asia lain juga mengalami hal yang sama.
Kondisi krisis yang belum pulih ini menurut sebagian pengamat akan terpengaruh jika program pencetakan uang baru dolar tersebut benar-benar terlaksana.
Kalau kita mundur ke tahun 1930-an, pakar ekonomi Inggris John Maynard Keynes datang dengan gagasan Bancor sebagai mata uang cadangan internasional. Keynes beranggapan bahwa perlu ada mata uang internasional yang bias digunakan berbagai Negara didunia untuk digunakan sebagai cadangan devisa. Pengaruh dolar dalam masa beberapa decade setelah itu menguat seiring dengan penguatan ekonomi AS. Hal ini menyebabkan lenyapnya Bancor Plan yang diusung Keyness.
Setelah dolar merajai sebagai mata uang global yang terlalu kuat, Negara-negara di dunia enggan menggunakan mata uang lain karena dianggap memiliki resiko yang tinggi. Akhirnya memutuskan menggunakan dolar sebagai mata uang untuk menyimpan cadangan devisanya. Termasuk juga pemerintah Indonesia. Jika rencana pencetakan uang baru dilakukan oleh pemerintah AS, maka dampaknya akan dirasakan pada semua Negara yang menggunakan mata uang dolar sebagai cadangan. Tentu pencetakan uang dolar baru besar-besaran ini akan menggembosi devisa dolar pada berbagai Negara, jadi tidak hanya dirasakan oleh rakyat AS.
Reaksi yang paling aman adalah seperti yang dilakukan oleh Pemerintah China itu, cepat-cepat mengganti mata uang dolar sebagai mata uang simpanan devisanya. China saat ini merupakan pemegang devisa terbesar didunia. Besarnya devisa China diperkirakan sampai 2,13 dolar AS. Alternatifnya pengganti dolar adalah kombinasi mata uang berbagai negara, termasuk dolar, euro dan mata uang Cina renminbi. Kemungkinan porto folio ke dolar akan yang terkecil sebagai strategi manajemen resiko yang disebut diversifikasi mata uang cadangan devisa.
Ekonomi China yang meraksasa telah menggantikan posisi AS dan Jepang di tahta persaingan ekonomi Negara-negara ekonomi besar. Bagaimana dengan pemerintah kita? Tanpaknya belum menunjukkan tanda-tanda perubahan. Kita ketahui Pemerintah Indonesia termasuk type pengikut yang setia kepada dolar, apa pun yang terjadi pada dolar yang akan tetap dolar.
Mazhab ekonomi kita yang kaku, tampaknya akan terus pada dolar, walapun apapun yang terjadi. Jangan kata pencetakan dolar baru, terjadi devaluasi pada dolar pun, kecil kemungkinan kita akan beralih ke euro, dinar atau dengan mengganti cadangan devisa kita dengan emas misalnya. Mengapa kita bisa begini?









