Oleh Sri Megawati dan Heri Hidayat Makmun
Krisis Amerika Serikat (AS) ekonomi tahun 2008 menjadi jika kita kaitkan dengan mata uang dolar. Sejak jatuhnya Lehmen Brother sebagai pemicu dari jatuhnya juga berbagai perusahaan besar AS. Selama ini kita mengenal Amerika Sebagai adidaya ekonomi. Hal ini juga selalu dikatakan oleh berbagai pakar yang tanpa ragu-ragu menetapkan bahwa AS merupakan negara dengan ekonomi yang kuat.
Gejolak sektor finansial merupakan hal yang biasa dalam era perekonomian dengan sistem keuangan dunia seperti sekarang ini, tapi mengapa kejadian ini dapat demikian dalam pengaruhnya terhadap fundamental perekonomian AS. Alasan utamanya adalah karena produk andalan AS justru ada pada sektor finansial ini.
Walaupun memang Amerika Serikat juga memiliki produk andalan seperti pesawat tempur, peralatan perang, dan industri film, tetapi sebenarnya produk yang memberikan kontribusi besar dan bernilai paling tinggi justru ada pada dolar. Amerika memproduksi uang dolar seperti halnya Jepang memproduksi mobil, Arab Saudi memproduksi minyak atau juga China memproduksi mainan anak-anak. AS menganggap dolar sebagai komoditas, tidak sekedar komoditas tetapi juga sebagai komodidtas unggulan paling strategis dalam perekonomian AS. Mengapa demikian?
Dolar yang biasanya hanya menjadi alat tukar, dengan dukungan sebuah mekanisme pasar, telah menjadi komoditas layaknya sebuah produk unggulan yang lebih menguntungkan dari pada peralatan perangnya atau juga industri perfilamannya. Tidak seperti Bank Indonesia yang mencetak uang hanya untuk memenuhi kebutuhan uang beredar di dalam negeri saja dan digunakan di Indonesia atau regional yang sangat terbatas, sehingga Bank Indonesia sebagai Bank Sentral mencetak uang juga secara terbatas. Sedangkan dolar AS dapat dicetak dengan volume yang besar untuk memenui kebutuhan perdagangan dunia internasional yang juga besar. Kendati penerbitan dolar AS dikontrol oleh Federal Reserve. Pencetakan uang dolar secara besar-besaran oleh Federal Riserve tidak terlalu mengurangi nilai rilnya, jika pertumbuhan ekonomi dunia masih terus berjalan dan jika masih banyak negara yang mengunakan mata uang tersebut. Inilah konsep dolar sebagai komoditi unggulan AS.
Dolar juga digunakan oleh Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) merujuk dolar AS sebagai konsekuensi hasil dari Konferensi Keuangan dan Moneter di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat pada tanggal 22 Juli 1944. Dolar AS digunakan oleh berbagai lembaga keuangan internasional lain seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).
Demikian juga dengan berbagai proyek internasional yang dijalankan oleh lembaga dan badan PBB, seperti UNDP, WHO, FAO atau lainnya dengan menggunakan dolar. Industri perbankan di berbagai negara juga banyak yang menggunakan dolar sebagai alat penyimpanan. Seperti di Indonesia, contohnya Bank Mandiri, BCA, BNI, BRI menyediakan produk layanan penyimpanan valas dalam mata uang dolar.
Bursa-bursa saham duniapun menggunakan dolar tidak hanya Wall Street, tapi juga Bursa Efek Jakarta, Nikei, Dow Jones atau lainnya juga bertransaksi dengan menggunakan dolar. Ekpor impor kita pun juga menggunakan dolar, demikian juga dengan negara-negara lain. Dolar AS juga secara luas di dunia internasional sebagai kurs cadangan devisa.
Seperti negara kita yang disimpan sebagai cadangan dalam mata uang. China, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Fhilipina, Mexico dan banyak lagi negara yang menggunakan dolar sebagai cadangan kursnya.
Perang yang terjadi di Irak dan Afghanistan didanai dengan dolar. Sampai rubuhnya kedua rejim pemerintahan tersebut. Maka rejim yang baru berdiri menjalankan pemerintahan dengan anggaran dolar. Perang tidak hanya membuat peralatan perang AS laku keras di pasar gelap ataupun resmi tetapi juga, transaksi perdagangan yang terjadi menjadi dolar tetap dibutuhkan.
Seperti hukum permintaan makin banyak permintaan maka akan semakin banyak supplay. Selama ada pertumbuhan baru ekonomi di dunia, maka akan ada transaksi dan perdagangan baru yang membutuhkan dolar AS. Kebutuhan baru dolar ini yang selalu dipantau oleh Federal Reserve untuk dipenuhi dengan mencetak uang baru. Berapapun yang dicetak ternyata nilainya tetap tinggi.
Hasil penerbitan uang baru digunakan untuk mendanai anggaran pemerintah Amerika Serikat dan cadangan pemerintah AS sendiri. Jadi sebenarnya cost pemerintah AS ternyata ditanggung oleh pertumbuhan ekonomi dunia.
Wajar jika pertumbuhan ekonomi dunia mulai melambat, menjadi momok bagi pemerintah AS. Hal yang lebih menakutkan lagi jika ada negara yang mengubah mata uang cadangan kursnya dengan mata uang alternative, seperti euro, pounsterling atau yen. Jika ini terjadi maka mekanisme "gurita dolar AS" terhenti.
Infrastruktur dolar juga seperti jaringan yang melibatkan lembaga-lembaga keuangan dunia, government to government, coorporate to coorporat, dan international business to international business yang dikembangkan terus, sampai menjadi hukum perdagangan internasional. Bahkan juga sampai menjadi mata uang yang masuk menjadi bagian dari berbagai peraturan dan kebijakan perdagangan di suatu negara. Contoh berbagai peraturan bea cukai di Indonesia, dan pada berbagai negara berkembang yang mendapatkan pinjaman dana dari IMF.
Ketika Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997 yang berlanjut pada krisis ekonomi, dan kita berhutang pada IMF, maka pinjaman tersebut dalam bentuk dolar. Didalam kesepakatan RI - IMF, kita harus membiarkan rupiah bernilai mengambang (Floating Value), yaitu suatu metode apresiasi mata uang dalam negeri dengan mata uang asing yang ditentukan pasar.
Demikian juga dengan negara-negara lain yang meminjam dolar dari IMF atau Bank Dunia diwajibkan untuk menjalankan floating value ini. Cara inilah yang menguras devisa kita secara terus menerus untuk melakukan intervensi ke pasar guna menstabilkan rupiah. Nilai rupiah dipertahankan dengan mekanisme lindung nilai (headging). Kondisi moneter seperti Indonesia ini tidak jauh beda dengan negara-negara lain yang berhutang kepada IMF dengan mewajibkan kurs mengambang dan penyimpanan cadangan kurs dengan mata uang dolar.
Dari banyaknya negara-negara di dunia yang menggunakan dolar AS, dengan disupplay oleh pencetakan uang yang terjadi hampir setiap hari seperti yang dikatakan oleh Alan Greenspan. Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS, atau Federal Reserve (The Fed) pada pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Dia yang telah 4 kali periode menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral cukup berpengaruh mendesign The Fed, dapatlah kita katakan bahwa industri utama AS adalah dolar.
Dolar sudah dijadikan sebagai komoditas perdagangan bukan hanya sekedar nilai tukar, sehingga ketika terjadi krisis finansial dan kepercayaan kepada dolar menyusut, dengan merubah ke mata uang alternatif seperti uero maka krisis AS akan sangat terjerembab sangat dalam. Dolar merupakan kekuatan ekonomi sesungguhnya AS.
Tekanan awal terhadap dolar AS adalah pada saat Uni Eropa mulai menyepakai menggunakan mata uang bersama euro sebagai alat tukar dinegara anggotanya. Disaat yang bersamaan kekuatan Jepang sebagai negara industri yang berhasil memantapkan Yen sebagai mata uang perdagangan mereka. Saat itu Federal Reserve sudah mulai mengurangi penerbitan uang baru. Mekanisme mengendalikan nilai mulai digunakan, saat pertama pemerintah AS merasakan inflasi, sehingga suku bunga the Fed mulai dikendalikan secara serius.
Sayangnya ketika banyak negara mulai mengalihkan cadangan devisanya ke mata uang alternatif seperti euro, tetapi pemerintah masih tetap mempertahankan dolar AS sebagai mata uang cadangan devisa kita. Seakan kita tidak memper hatikan porto folio yang aman terhadap aset berupa devisa kita yang sangat terbatas ini. Apakah pemerintah kita tidak ingin memindahkan cadangan devisa kita ke euro atau mata uang dunia yang lain? Sayangnya walaupun pemerintah kita sudah menyadari kondisi ini, faktanya cadangan devisa kita masih dolar.









