Oleh M. Tutur Subagya
UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan Pengaturan Organisasi TNI dalam UU Nomor 34 Tahun 2004 sebagai awal dari repormasi tubuh ABRI. ABRI dan Polri dipisah dan menjadi satuan tersendiri dengan tugas dan fungsi yang berbeda.
TNI juga dibebaskan dari aktifitas politik praktis agar TNI lebih menjadi profesional baik dari aspek doktrin, kultural dan postur.
Postur ril Pertahanan Indonesia bisa dilihat dari kondisi kekuatan hari ini. Kondisi kekuatan personel TNI hingga saat ini mencapai 383.870 orang (0,17%) dari 220 juta penduduk Indonesia, yang terdiri dari 298.517 orang TNI Angkatan Darat, 60.963 orang TNI Angkatan Laut, 28.390 orang TNI Angkatan Udara, dan 68.647 PNS TNI. Jumlah kekuatan personil TNI tersebut jika dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia masih belum seimbang.
Kekuatan Alutsista TNI Angkatan Darat sebagian besar masih bertumpu pada aset lama yang meliputi 1.261 unit Ranpur, namun yang siap operasi 799 unit, 59.842 unit Ranmor namun yang siap operasi 52.165 unit, 538.469 pucuk senjata dengan berbagai jenis yang siap operasi 392.431 pucuk. Dan pesawat terbang 53 unit dari bebagai jenis yang siap operasi 27 unit.
Kekuatan Alutsista Angkatan Laut meliputi pertama, unsur kapal terdiri dari Striking force 18 unit, Patrilling Force 58 unit, supporting force 67 unit, dan KAL 317 unit yang siap operasi 76. Dua, unsure pesawat udara terdiri dari 65 unit dari berbagai jenis yang siap operasi 39. Ketiga ranpur marinir 410 unit yang siap operasi 157 unit.
Kekuatan Alutsista Angkatan Udara bertumpu pada pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat helikopter, maupun jenis pesawat lainnya serta peralatan rudal dan radar yang meliputi 234 unit pesawat berbagai jenis dengan kondisi siap operasi 57%, radar 17 unit dengan kondisi siap operasi 88,8%, rudal QW-3 untuk operasional Paskhas dengan kondisi siap operasi 100%.
Ringkasnya, kondisi TNI kita baik dari segi SDM maupun sarana dan prasarana termasuk Alutsista masih jauh untuk menjadi postur pertahanan negara yang memiliki minimum essential forces. Apalagi dengan luas wilayah dan besarnya jumlah penduduk.
Alutsista TNI kita yang masih jauh dari harapan semoga tidak melenturkan semangat juang TNI kita sebagai tentara rakyat dan tentara pejuang. Masa revolusi fisik waktu melawan penjajahan dahulu membuktikan bahwa TNI berdiri diatas kekuatan moral yang hebat. Bukan senjata, tetapi juga bukan berarti karena itu “dengan sengaja atau tidak sengaja diperlemah” dengan anggaran yang minim. TNI kita harus kuat secara moral tetapi juga kuat secara peralatan dan persenjataan.
Kita adalah bangsa besar saudara. Bukan selogan! Tetapi memang wilayah nusantara yang luas, pulau yang banyak, diapit oleh benua-benua, jumlah penduduk kita juga besar, dengan jumlah asset yang luar biasa besar terkandung di perut Ibu Pertiwi. Oleh karena itu TNI juga harus besar dan kuat.
Apalagi sekarang ini dalam masa-masa keprihatinan dengan banyaknya bencana, TNI selalu berada didepan bersama para korban bencana, dari sejak bencana tsunami Aceh dahulu, sampai kejadian bencana yang terakhir ini di Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu. Walaupun dengan kondisi anggaran yang minim, sehingga TNI harus melakukan perjalanan kaki ke daerah terpencil Pariaman yang susah dijangkau.
Ini bukti bahwa TNI adalah pengayom rakyat, sebagai pejuang rakyat, sama seperti semangat perjuangannya seperti saat masa-masa BKR/TKR masa Jendral Sudirman dahulu.
Apapun kondisi TNI, semoga semangat juangnya tidak luntur, seperti saat-saat Jenderal Soedirman masih berdiri memimpin prajurit TNI dalam menghadapi penjajah Belanda, Jepang dan Sekutu. Semangat dan moril yang tinggi ini hanya berbekal bambu runcing saja, tetapi kita bisa merdeka. Semoga harapan untuk menjadikan TNI yang kuat dan profesional tidak kalah dengan bangsa lain akan terlaksana. Hidup TNI! Hidup NKRI! Merdeka!









