Oleh Sumantiri B. Sugeo

Salah satu negara tetangga kita yang sekarang sudah menjadi anggota ASEAN, yaitu Republik Sosialis Vietnam, Negara yang berbatasan dengan Cina di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan di sebelah timur terbentang Laut cina selatan ini memang luar biasa. Mengapa demikian?
Untuk merebut kemerdekaan dari dua Negara adidaya yaitu Prancis dan Amerika Serikat (AS), Vietnam harus berjuang dengan keras dengan segala daya yang ada. Jutaan rakyat Vietnam tewas baik dari Vietnam Utara, maupun dari Vietnam Selatan. Infrastruktur hancur total, banyaknya menyimpan ranjau darat yang setiap saat bisa meledak masih belum tuntas di hilangkan, dan trauma perang yang sampai sekarang belum dapat hilang dari perasaan rakyat Vietnam.
Vietnam di kuasai Perancis setelah melakukan beberapa perang kolonial di Indochina mulai dari tahun 1840-an, sampai tahun 1945 akhirnya Prancis dapat ditaklukan dalam pertempuran Dien Bien Phu, di lembah terpencil di sebelah Barat Laut, pada tahun 1954.
Prancis terpaksa mengakui eksistensi Republik Demokrasi Vietnam, walaupun Vietnam menang telak terhadap militer Prancis, sayangnya perjanjian perang ini dipindah dalam suatu kompromi dalam Konperensi Internasional di Jenewa. Hasil keputusan perundingan ini,Vietnam terpaksa menerima (untuk sementara) dibagi dua negara, Yaitu Vietnam Utara yang dipimpin Ho Chi Min dengan tentara Vietkongnya dan Vietnam Selatan yang didukung AS. Pemerintah boneka AS, Vietnam Selatan dibentuk.
Setelah merdeka dari tangan Prancis, masih lagi harus menghadapi mesin perang dari Negara terkuat di dunia, AS. Pada waktu itu era perang dingin mendorong AS untuk menolak komunisme Vietnam Utara. AS khewatir Vietnam akan jatuh berada dibawah pengaruh Tingkok dan Uni Soviet.
Presiden Dwight D Eisenhower mengambil keputusan untuk mendukung penuh negara Vietnam Selatan dan berupaya untuk melumpuhkan Vietnam Utara. Vietnam Selatan juga mendapatkan dukungan dari Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina. Sedangkan Vietnam Utara dibackup oleh Uni Soviet dan Tiongkok (China).
A.S. mulai meningkatkan kontribusi penasihat militer ke Vietnam Selatan. Serangan kontroversial atas kapal A.S. di Teluk Tonkin memicu serangan militer A.S. terhadap instalasi milter Vietnam Utara dan penempatan lebih dari 500.000 tentara di Vietnam Selatan. Jumlah ini lebih banyak dari tentara AS yang dikirim ke Irak pada saat akan menjatuhkan Sadam Husein.
Dalam berbagai pertempuran yang terjadi pasukan A.S. banyak mengalami kekalahan dalam menghadapi perang gerilya yang sengit dengan Viet Cong, milisi komunis Vietnam Selatan. Tentara AS berjatuhan dimana-mana. Tentara AS banyak mengalami kesulitan dalam perang dipegunangan dan hutan rimba Vietnam yang masih sangat lebat.
Pada tahun 1968 Pasukan Vietnam Utara melakukan penyerangan terhadap Vietnam Selatan yang dikenal sebagai Tet Offensive dan perang dengan segera menyebar ke negara tetangga Laos dan Kamboja. Banyak dari rakyat Laos dan Kamboja juga jadi pendukung Vietnam Utara.
Pertempuran menjadi semakin panjang dan lama, implikasi yang muncul tidak diperkirakan. Jumlah korban tentara AS semakin hari semakin banyak, bahkan dalam jumlah yang diperkirakan sampai 58.209 tentara tewas, dan 153.303 tentara yang terluka, belum lagi terhitung yang hilang dan sampai sekarang tidak pernah diketemukan.
Merasa kesulitan dan kekalahan demi kekalahan, dan kemungkinan jatuhnya Vietnam Selatan semakin jelas, akhirnya Presiden Lyndon Johnson, presiden AS berikutnya setelah Eisenhower memerintahkan menarik pasukan AS dari Vietnam. Hal ini membuahkan Perjanjian Damai Paris (Paris Peace Accords) pada 27 Januari 1973 mengakui kekuasaan tertinggi kedua belah pihak. Di bawah perjanjian, seluruh pasukan perang Amerika ditarik pada 29 Maret 1973.
Setelah perjanjian itu ternyata pertempuran antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan masih berlanjut, tetapi tanpa campur tangan AS lagi. Dalam suatu serangan yang cukup besar, akhirnya Vietnam Selatan jatuh pada 30 April 1975.
Untuk sementara Vietnam Selatan tidak dibubarkan oleh Pemerintah Ho Chi Min, tetapi tetap sebagai sebuah negara boneka di bawah kekuasaan militer oleh Vietnam Utara, sebelum secara resmi pada akhirnya disatukan dengan Utara di bawah pemerintahan Komunis sebagai Republik Sosialis Vietnam pada 2 July 1976.









