Oleh Heri Hidayat Makmun
Kebangkitan Vietnam bersatu yang kemudian berubah nama menjadi Republik Sosialis Vietnam pada 2 Juli 1976 sangat fenomenal. Berbagai perubahan dan transformasi dari era perang menjadi era kebangkitan mulai terjadi. Ho Chi Min bisa disebut sebagai arsitek untuk merubah bangsa Vietnam dari traumatic perang menjadi semangat untuk pembangunan Vietnam. Semangat nasionalisme Vietnam yang sangat kuat mempermudah usaha ini, walaupun paska perang dengan Amerika Serikat (AS), rakyat Vietnam masih harus lagi menderita akibat embargo yang dilakukan AS dan negara-negara barat sampai tahun 2002. Dalam blokade ini, Vietnam tetap mampu mengembangkan infrastruktur pertanian sebagai langkah awal untuk penyediaan logistic dan pangan rakyat Vietnam.
Baru setelah tahun 2003 lah rakyat Vietnam dapat bernapas lega. Berbagai kamar dagang dibuka. Ekport dan import baru bisa berjalan. Usaha-usaha perdagangan yang lebih luas mulai terbuka. Vietnam mulai melakukan import bahan biji besi, mesin produksi, kapal laut, dan peralatan transportasi sebagai peralatan untuk berproduksi. Siapa sangka dalam waktu yang demikian cepat, bahkan lebih cepat dari kebangkitan China, Vietnam dalam waktu 8 tahun saja dapat mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara anggota ASEAN yang lain. Infrastruktur pertanian yang dibangun pada masa embargo terbukti sangat bermanfaat dalam pengembangan industri ditahap ini.
Reformasi Vietnam yang diterapkan sejak pertengahan 1980-an dengan nama "doi moi" (pembaruan ) yang menekankan kesejahteraan dan kemajuan ekonomi rakyat dengan penguatan ekonomi kerakyatan berdasarkan sistem sosialisme. Pemerintah Vietnam mendorong penciptaan lapangan pekerjaan besar-besaran, pembukaan lahan baru pertanian, perbaikan teknologi pertanian, perbaikan infrastrukur jalan, pembangunan pusat pembangkit listrik dan distribusinya.
Dalam gebrakan kedua ini, tahun 2001 sampai tahun 2005 saja pertumbuhan pendapatan bruto domestic (GDP) sudah mencapai rata-rata 7,5 persen, padahal tahun 2000 Vietnam masih diblokade AS. Kemudian pada tahun 2006 naik lagi mencapai 8,4 persen.
Pertanian padi, kopi, lada, coklat terus mengalami peningkatan, bahkan pada tahun 2009 ekspor beras Vietnam sudah mengungguli Thailand dan pada tahun 2005 ekport kopi sudah mulai mengimbangi Brasil. Pada tahun 2007 lada Vietnam sudah lebih melewati export Indonesia. Sebuah percepatan yang cukup fantastis.
Vietnam melaporkan surplus perdagangannya selama triwulan pertama 2009 dapat mencapai US$ 1,64 miliar, karena resesi global membuat impor Vietnam turun. Impor Vietnam selama triwulan satu 2009 turun 45 persen menjadi US$ 11,83 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu, sedangkan ekspor naik 2,4 persen menjadi US$ 13,47 miliar.
Badan statistik Vietnam merilis laporan bahwa komoditi emas adalah komoditi ekspor yang paling tinggi pertumbuhannya. Pada tahun 2009 export emas Vietnam melonjak hampir 50 kali lipat menjadi US$ 2,28 miliar dibanding nilai ekspor pada periode yang sama tahun lalu. Industri emas Vietnam dikelola oleh bangsa sendiri, lain dengan Indonesia yang hanya mendapatkan fee saja.
Modal utama Vietnam yang memiliki tanah yang subur dengan sumber daya alam melimpah, bahan tambang batu bara, minyak, gas, dan bauksit. Tenaga kerja Vietnam juga cukup produktif dengan rata-rata umur masih usia muda. Reformasi pendidikan juga menyediakan tenaga kerja trampil berpendidikan lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang lain, dengan pendapatan per kapita setingkat. GDP per kapita pada tahun 2006 sudah mencapai US$ 566.
Kebangkitan Vietnam ini bisa menjadi contoh bagi bangsa Indonesia, yang sebenarnya lebih senior dan lebih dulu merdeka. Bayangkan saja pada tahun 2002 saja Vietnam masih di blokade, tetapi ternyata pada tahun 2010 ini Vietnam sudah mulai menunjukkan taringnya sebagai Negara yang mulai kuat ekonominya. Nasionalisme Vietnam, keulatan rakyatnya, dan keunggulan sistem pemerintahan yang dianutnya menyebabkan Vietnam dapat bangkit dengan cepat. Bagi rakyat Vietnam, perang telah menciptakan semangat untuk memperbesar dan memperkuat negaranya, kesadaran ini seakan menjadi kompetisi yang positif untuk membangun Vietnam maju dan sejajar dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.









